Kulihat Padi di Mana-Mana

Ayo kawan kita bersama

Menanam padi di sawah kita

Ambil cangkulmu

Ambil pangkurmu

Kita bekerja tak jemu-jemu

(Eh, maaf, cuma menyesuaikan dengan tema...😅

Lagu asli: Menanam Jagung, karya Ibu Sud)

Sumber gambar: https://ilmubudidaya.com/wp-content/uploads/2019/07/cibogo-300x200.jpg

            Padi adalah sejenis tanaman pangan yang umumnya dibudidayakan di sawah, lahan kering, atau lahan rawa dataran rendah.  Padi menjadi makanan pokok atau sumber karbohidrat bagi masyarakat di berbagai wilayah beriklim tropis dan beberapa wilayah subtropis terutama di banyak negara Asia, di mana padi dapat tumbuh dengan sangat baik dikarenakan suhu, cahaya matahari, curah hujan, serta lahan yang sesuai. Di Indonesia, hampir seluruh daerah mampu menghasilkan padi dan menjadikannya makanan pokok. Daerah timur seperti Maluku dan Papua yang kering dengan curah hujan rendah tidak bergantung pada tanaman padi, melainkan sumber karbohidrat lain yang cocok tumbuh di sana, misalnya sagu dan ubi jalar ungu. Bagian padi yang sering diolah menjadi hidangan adalah buahnya, yang sering disalahpahami sebagai biji, sebab ukurannya yang amat kecil dan memang bagian itulah yang menjadi benih atau bibit untuk ditanam kembali.

            Nama latin atau nama ilmiah tanaman padi adalah Oryza sativa L. Padi termasuk ke dalam jenis tanaman rumput-rumputan. Seperti jenis rerumputan lainnya, padi tergolong tanaman monokotil yang berkeping biji tunggal, berakar serabut, bertulang daun sejajar, dan batangnya tidak memiliki kambium sehingga tidak dapat mengeras dan membesar. Batangnya beruas-ruas dan merupakan bubung kosong, yang kedua ujungnya ditutup oleh buku. Ruas batang padi diselubungi oleh daunnya, dari pangkal akar hingga pucuk. Bunga padi merupakan bunga lengkap, artinya memiliki bagian-bagian bunga secara lengkap mulai dari kelopak hingga alat kelamin jantan dan betina. Bunga padi tidak memiliki perhiasan bunga sehingga termasuk bunga telanjang. Pada setiap bunga terdapat putik yang pendek dengan dua tangkai dan dua kepala putik berwarna putih atau ungu, serta enam benang sari bertangkai pendek dan tipis dengan kepala sari yang besar. Bunganya yang disebut malai muncul dari ruas paling atas tanaman. Seluruh bagian padi berwarna hijau muda hingga hijau tua sebelum masa panen. Jika buah-buahnya telah matang yang artinya siap dipanen, bagian kulit buah padi akan berwarna kekuningan hingga kecokelatan, bahkan kemerahan atau kehitaman pada sebagian jenis padi. Setelah dipanen, buah padi akan dipisahkan dari tangkainya. Setelah terpisah, buah padi akan disebut gabah dan tangkainya disebut jerami. Gabah kemudian dibersihkan dari kulitnya (sekam) dan melalui beberapa proses sebelum menjadi beras, yang kemudian menjadi nasi atau berbagai olahan lainnya. Selain bulir beras, bagian lain dari padi juga dapat dimanfaatkan. Jerami dapat dijadikan pakan ternak, bahan bakar, dan berbagai kerajinan; sekam dapat menjadi media tanam, abu gosok, bahan bakar, dan lainnya; bekatul dan dedak dapat menjadi pakan ternak dan minyak goreng; dan masih banyak lagi pemanfaatan padi yang dapat digali.

            Ada berbagai jenis tanaman padi yang dibedakan berdasarkan kriteria tertentu. Berdasarkan warnanya, dikenal padi dengan bulir beras berwarna putih, merah, cokelat, dan hitam; berdasarkan sifat beras atau olahan yang dihasilkan, dibedakan menjadi padi ketan, padi wangi, padi pulen, dan padi pera; berdasarkan varietasnya, dikenal padi varietas unggul, varietas hibrida, dan varietas lokal; sedangkan dilihat dari cara budidayanya, dikenal padi rawa atau padi sawah dan padi gogo.

            Sejak ditanam, sebagian besar padi memerlukan waktu 3--4 bulan untuk tumbuh dan berkembang hingga siap dipanen. Fase perkembangan tanaman padi umumnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu fase vegetatif sejak hari ke-0 (penyemaian) hingga hari ke 60; fase generatif pada hari ke-60 hingga hari ke-90; dan fase pemasakan/pematangan pada hari ke-90 hingga hari ke-120.

Sumber gambar: https://polinela.ac.id/program-studi-d4-teknologi-perbenihan-memproduksi-benih-padi-bersertifikat/

            Padi yang dibudidayakan memerlukan perawatan yang baik agar dapat menghasilkan beras yang berkualitas dengan jumlah mencukupi. Para petani harus mampu menentukan waktu yang baik untuk menebar benih, menanam padi, dan memanen padi. Mereka juga perlu cermat mengurus setiap jengkal lahan agar terbebas dari hama atau gulma yang dapat menyebabkan gagal panen. Hama yang sering menyerang tanaman padi adalah wereng, belalang, burung pipit, tikus, walang sangit, keong, dan lainnya. Cara membasmi setiap jenis hama berbeda-beda. Misalnya, burung pipit dibasmi dengan membuat orang-orangan sawah atau alat penghasil suara keras dan ramai, tikus dibasmi dengan memasang perangkap atau melepaskan hewan predator/pemangsanya seperti ular dan burung hantu di lahan pertanian, dan sebagainya.

            Gulma atau tanaman pengganggu bagi tanaman padi, yaitu rerumputan, teki-tekian, pakis-pakisan, serta tanaman lain yang biasa tumbuh di sela-sela barisan tanaman padi dan mencuri nutrisi atau zat hara yang dibutuhkannya. Pengendalian gulma sebaiknya dilakukan secara preventif atau pencegahan, yaitu dengan membersihkan lahan dari semua gulma sebelum padi ditanam. Jika lahan terlanjur ditumbuhi gulma saat padi telah ditanam, maka gulma dapat dibasmi dengan pemangkasan, penggenangan, pembakaran, dan penggunaan mulsa atau bahan penutup lahan pertanian yang dapat menjaga kelembapan tanah sekaligus mencegah gulma berkembang.

            Selain hama dan gulma, ancaman terbesar bagi pertumbuhan dan perkembangan padi adalah kondisi alam. Berbagai bencana seperti kekeringan, gunung meletus, banjir, banjir bandang, dan tanah longsor dapat merusak padi yang telah ditanam dan menyebabkan gagal panen.

            Padi sebagai hasil utama pertanian Indonesia membuka banyak lapangan pekerjaan bagi masyarakat. Semakin luas pertanian atau budidaya padi, semakin lebar lapangan pekerjaan di sektor tersebut. Namun, seiring bertumbuhnya industri, ekonomi, dan budaya, pertanian padi juga terancam. Banyak sawah, ladang, dan lahan yang beralih fungsi menjadi perumahan, pabrik, dan gedung. Produksi padi akhirnya berkurang, dan Indonesia terpaksa mengimpor sejumlah kebutuhan padi dari negara lain. Padahal, potensi pertanian padi di Indonesia masih sangat besar dan menopang banyak kehidupan. Para pemilik lahan pertanian yang memiliki kemampuan ekonomi menengah hingga tinggi mungkin baik-baik saja dan bisa mencari pendapatan dari usaha lain. Namun, yang berkemampuan ekonomi rendah seperti buruh tani belum tentu dapat merambah usaha lain, karena umumnya berpendidikan rendah dan hanya memiliki keterampilan bertani. Untuk itu, usaha dalam sektor pertanian dalam negeri perlu terus dikembangkan.

            Selain produk fisik dan peluang usaha, di masyarakat beredar filosofi padi atau ilmu padi. Ungkapan yang sering didengungkan, yaitu “Bagaikan padi, semakin berisi, semakin merunduk”, bermakna semakin kaya seseorang akan ilmu, harta, dan apapun, ia akan semakin rendah hati. Filosofi berikutnya, padi adalah tanaman yang memberi manfaat, sehingga manusia harus menirunya dengan selalu berbuat baik kepada sesama. Pelajaran yang juga terkenal adalah ‘menjadi seperti padi yang pandai beradaptasi’. Padi dapat tumbuh di banyak tempat, mulai dari sawah, ladang, rawa, bahkan tanah landai. Dengan kondisi air, tanah, suhu, dan sinar matahari yang berbeda-beda, padi dapat menyesuaikan diri dan tumbuh dengan baik.

Komentar