Judul: Dia adalah Kakakku
Penulis: Tere Liye
Penerbit: Republika
Tahun terbit: 2018
ISBN: 978-602-5734-37-3
Tebal: 398 halaman
Ukuran: 20,5 cm
Harga P. Jawa Rp 85.000
U15+
"Buat apa kamu memikirkan apa yang dipikirkan orang lain? Buat apa kamu mencemaskan apa yang akan dinilai orang lain? Kekhawatiran, juga kecemasan yang sejatinya mungkin tidak pernah ada."
Tentang seorang kakak yang mengorbankan apa pun agar adik-adiknya bisa sekolah. Tentang rasa sabar dan penerimaan. Tentang keluarga yang penuh perjuangan.
***
Dulu, sekarang, hingga kapan pun dia adalah kakakku.
Dia adalah Kakakku merupakan judul baru dari novel karya Tere Liye yang sebelumnya berjudul Bidadari-bidadari Surga, yang telah diangkat menjadi film layar lebar dengan judul yang sama (2012).
Novel ini mengisahkan sebuah keluarga yang terdiri atas 5 anak yang hanya tinggal dengan ibu mereka di suatu lembah bernama Lembah Lahambay. Ceritanya berpusat tentang pengorbanan seorang kakak untuk adik-adiknya.
Laisa, anak tertua keluarga tersebut memiliki perbedaan fisik sangat menonjol dengan mamak (ibu) dan keempat adiknya, Dalimunte, Ikanuri, Wibisana, dan Yashinta. Biarpun begitu, tubuhnya yang gempal, pendek, dan kulit hitamnya tak menyebabkan Laisa gagal menciptakan cahaya bagi dirinya dan sekitarnya, sebab ia memiliki perangai istimewa, yaitu selalu tulus, rela berkorban, gigih, dan sangat mencintai keluarganya, terutama adik-adiknya. Mulai dari ia yang berhenti sekolah ketika adik-adiknya sudah cukup umur untuk bersekolah, sebagai gantinya ia membantu mamaknya bekerja keras di ladangTerlihat ketika adiknya yang sangat nakal-Wibisana dan Ikanuri menyakitinya dengan tidak mau mengakui dirinya sebagai kakak mereka, ia tetap memaafkan dan menyayangi mereka, bahkan menyelamatkan nyawa mereka dari suatu insiden yang tidak akan pernah mereka lupakan sampai kapanpun.
Laisa akan selalu ada untuk adik-adiknya, menjadi pelindung dan selalu berusaha sekiat tenaga memenuhi keinginan mereka. Tatkala si bungsu Yashinta ingin diantar ke sungai melihat berang-berang, Laisa dengan senang hati mengantarnya. Ia tidak akan pernah membiarkan adik-adiknya merasa kecewa dan malu. Jika ada yang harus kecewa dan malu, itu adalah ia, bukan adik-adiknya. Dalimunte kecil yang gugup saat akan memublikasikan idenya tentang lima kincir air untuk irigasi ladang warga kampung, Laisa-lah yang menyelamatkan dan membela adiknya, menanggapi semua bantahan dan seruan-seruan sangsi atas ide yang tak jauh berbeda usaha warga sebelumnya yang selalu berakhir dengan kegagalan.
Usaha gigihnya menciptakan perkebunan strawberry mampu mulai mengantarkan keluarga mereka ke kehidupan yang lebih baik, walaupun tak langsung berhasil di usaha pertama. Ia pun menjadi contoh bagi warga lainnya yang akhirnya juga mencoba menanam strawberry. Perkebunan strawberry yang ia mulai semakin meluas dan sukses, hingga ia harus merekrut warga lain untuk menjadi pekerja di kebunnya.
Tapi, walaupun ia sukses dan mampu menyukseskan adik-adiknya, ia tetap tidak "maju" dalam satu hal, yaitu jodoh. Ia sempat menjadi gunjingan karena tidak ada laki-laki yang mau menikah dengannya. Sebab budaya menilai dari penampilan, Laisa tidak menarik bagi mereka. Adik-adiknya yang sudah berkarir serta kepala kampung yang masih terhitung kerabat pun sudah berusaha mencarikan jodoh untuknya. Namun, selalu saja, ketika kesempatan itu hampir tiba di ujungnya, takdir berkata lain. "Kehampir suksesan" perjodohannya yang paling menonjol dan diceritakan cukup panjang yaitu perjodohannya dengan kolega riset Dalimunte, di mana ia meminang Laisa untuk menjadi istri kedua karena pernikahan dengan istri pertamanya selama 15 tahun belum juga dikaruniai anak. Namun, ketika semua terlihat berjalan sangat baik bagi semua pihak, kabar kehamilan istri pertamanya seolah kabar baik sekaligus kabar buruk. Laisa menerimanya dengan tabah dan segera melupakan rasa sakit itu. Ia rela terus "sendirian" dan "dilintas" oleh adik-adiknya. Dapat dikatakan bahwa kebahagiaannya adalah melihat adik-adik dan keluarganya bahagia.
Alur maju-mundur novel ini disertai pendeskripsian latarnya sangat membuat pembaca seolah hadir dan menyaksikan sendiri kejadian dalam cerita. Pembaca menjadi tak tertahankan meluapkan sedih, marah, kesal, dan gelisahnya seiring halaman demi halaman terbuka. Paragraf awal cerita pun sudah menarik minat untuk membacanya. Bagaimana tidak? Diceritakan tokoh utama yaitu Laisa yang sedang sakit akhirnya untuk pertama kalinya ingin meminta bantuan dari adik-adiknya. Lalu kita seolah terbang ke tempat konferensi fisika Dalimunte, ke benua Eropa bersama Ikanuri dan Wibisana, kemudian ikut merasakan dinginnya udara Gunung Semeru dan sedang mengendap-endap memperhatikan burung alap-alap kawah bersama Yashinta.
Tingkah lucu dan polos dari 3 gadis kecil-Intan, Delima, dan Juwita (anak-anak, keponakan, atau cucu-cucu) agak mencairkan suasana ketika para anggota keluarga sedang gelisah dengan kabar Laisa.
Seperti karya Tere Liye lainnya, ragam suasana yang disajikan sangat proporsional. Romantisme anak-anak yang menjadi dewasa dalam beberapa bab sungguh mempermanis cerita. Kisah keberanian dan ketangguhan begitu memukau. Patutlah novel ini diangkat menjadi film yang juga tak kalah hebat dengan aksi pemeran-pemeran profesional.
Kekurangan dalam novel ini, mungkin hanyalah pembaca tidak tahu kelanjutan atau detail kehidupan tokoh lain yang tak kalah menarik perhatian. Hal itu karena cerita berakhir setelah semua anggota keluarga berkumpul untuk terakhir kalinya, melepas kepergian Laisa-yang hingga akhir hayatnya tetap "sendirian". Jika saja novel ini ada sekuel atau kelanjutannya, pasti akan sangat menarik dan segera diburu pecinta kisah ini. Kemudian-entah ini kekurangan atau bukan, namun ada "keunikan" pada sisi penceritaannya. Dari awal kita tahu sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang orang ketiga. Namun, bagian akhir kita akan dikagetkan oleh pernyataan bahwa pencerita adalah orang yang juga hadir ketika cerita hampir berakhir-pertemuan seluruh anggota keluarga, sehingga pembaca mungkin merasa aneh bagaimana pencerita tahu secara detail apa yang terjadi pada setiap anggota keluarga selama cerita berlangsung, baik perasaan maupun keadaan fisik serta lingkungannya. Seperti bagaimana diceritakan bahwa Yashinta yang pingsan sehabis jatuh ke jurang dijaga oleh seekor macan kumbang, sehingga terhindar dari cabikan beruang-juga tupai-tupai tersebut yang berada di sekitarnya. Biar begitu, hal tersebut sepertinya dapat dimaklumi sebagai dramatisasi untuk membawa suasana.
Pesan moral dapat disimpulkan dengan mudah dari novel ini. Pengorbanan, rasa cinta, sayang, kehangatan, kedekatan, dan kesalihan dalam keluarga yang sederhana dan bersahaja, yang meniti hidup dari lapisan terbawah.
Meskipun pada sampul tertera untuk 15+, tidak ada salahnya jika pesan-pesan moral dalam novel diberitahukan kepada anak yang lebih muda, di antaranya tentang kebahagiaan yang sederhana didapat, gemar menolong, kejujuran, kepercayaan diri, kerukunan, dan menghargai jasa orang lain.
Penilaian dari saya: 100/100 💗
Komentar
Posting Komentar